12 Nov 2017

PAHIT

0 komentar
Pagi ini, Aku menyantap sarapan pagiku dengan dua lembar roti isi. Entah pikiran apa yang sedang meracauku, tiba-tiba saja aku ingin memperelok roti tersebut dengan chocolatos di dalamnya kemudian menggorengnya. Aku pikir, itu akan menambah kelezatan dari roti isi tersebut. Tapi, sayangnya, ekspektasiku terlalu tinggi. Ah ku rasa ini bukan soal ekspektasi, mungkin lebih ke skill memasakku. Hahaha. Roti yang aku goreng, sebagian besarnya gosong karena aku lupa telah menyalakan api yang besar. Padahal, tanpa digoreng pun, roti itu enak untuk dijadikan sarapan. Roti yang awalnya manis karena diisi dengan selai dan chocolatos, kini menjadi pahit karena gosong yang ku perbuat sendiri. 


Ya, terkadang aku bingung, kenapa manusia sering sekali mencari-cari ‘masalah’ seperti itu?
kalau saja aku tidak mencoba, mungkin aku akan menikmati rosi isi manisku dengan wajah yang gembira. Tapi, kalau aku tidak melakukannya, mungkin aku tidak tahu bahwa Allah swt sedang mengajarkanku lewat pengalaman itu.


Ah. Mencintai seseorang pun sama kasusnya. Kalau saja kamu tidak menenggelamkan dirimu dalam lubang cinta, tentu kamu tidak perlu menikmati pahitnya mencintai bukan? Namun, jika kamu tak mengenal namanya cinta, kamu tak akan tahu bagaimana caranya mengasihi seseorang, iya kan? Begitulah. Allah swt sudah mengatur segalanya, ada hal yang harus dikorbankan untuk mendapatkan sesuatu yang lebih indah dari ekspektasi awal.


Perihal mencintai, kamu tak perlu menyesal sudah mencintai seseorang. Cinta itu fitrah, kawan. Maka dari itu, nikmati saja.  tapi tentu, kamu harus mengukur takaran mencintai itu. jangan sampai cintamu kepada manusia lebih besar daripada rabbmu.


Lakukan apa yang menurutmu baik untuk dilakukan. Setiap keputusan akan mengarah pada jalan yang berbeda. Namun, jika sudah diniatkan baik dari awal, meski melahirkan jalan yang berbeda, tentu tujuan akhirnya pun akan membawa keberkahan. Insyaallah.

14 Agu 2017

//Review// KHADIJAH [TELADAN AGUNG WANITA MUKMINAH]

3 komentar


“Dialah yang beriman kepadaku ketika orang-orang lain mengingkari. Dialah yang membenarkanku ketika orang-orang mendustakan. Dialah yang memberikan hartanya kepadaku ketika orang-orang sibuk menahan. Dan kepadanya pula Allah menganugerahkan anak padaku dibandingkan istri-istri lainnya.”
[Muhammad tentang Khadijah; dalam HR. Ahmad]

Assalamu’alaikum wr wb,

Yuhuuuuuuuuu! Bagaimana kabarnya teman-teman? Hehehe. Semoga diberikan kesehatan selalu yaw! Alhamdulillah, di liburan kali ini saya diberikan kesempatan untuk membuat review buku karangan Ibrahim Muhammad Hasan Al-Jamal yang berjudul KHADIJAH. Tentu, review buku kali ini berbau islami. Buku ini sudah lama diterbitkan, cetakan pertama yakni pada tahun 2014. Apakah karena buku ini sudah lama terbit sehingga membuat saya ogahan  untuk mereview buku ini? Jawabannya, tentu tidak. Kalian akan menemukan alasannya sendiri mengapa saya mereview buku ini. Kenapa harus buku ini yang saya review, kenapa tidak buku-buku lainnya yang tersusun di rak buku saya? Entahlah, hati saya lagi terpaut untuk mereview buku karangan Ibrahim Muhammad Hasan ini. Ohya, satu lagi. Dalam review-an ini, saya tidak membuatnya berdasarkan aturan baku yang ada –sama seperti saat saya mereview origami hati. Saya menulis review ini agar ingatan saya tentang cerita ini tidak te-reset begitu saja dan menjadi sia-sia. Hahaha. 

Cussss!

Siapa sih yang tidak kenal Khadijah R.A? “Mungkin” ada beberapa dari kalian yang belum mengetahuinya. Perjalanan panjang sejarah islam tentu tidak terlepas dari kontribusi kaum muslimah, sebab tidak jarang kontribusi mereka terabadikan dalam cerita-cerita yang ada. Salah satu potret wanita paling mulia yang dikenal dalam sejarah ialah Sayyidah Khadijah R.A. Dalam buku ini, kita tidak hanya disuguhkan cerita tentang siapa sosok Khadijah, bagaimana garis keturunannya, apa saja gelarnya, bagaimana peranannya dalam sejarah islam, dsb. Namun, dalam buku ini, kita akan dibawa pada masa yang paling berpengaruh dalam islam juga, diantaranya masa di mana dakwah bermula, masa di mana nabi menghadapi penentangan dan hadangan dari orang-orang yang tidak mempercayainya dan tentu juga penjelasan kisah pengrobanan para sahabat yang berjuang mati-matian memberikan kontribusi dalam memperkokoh dakwah islam.

Khadijah dilahirkan dari keluarga Quraisy yang sangat mulia dan terhormat. Ayahnya bernama Khuwailid bin Asad bin Abdul Uzza. Ibu Khadijah bernama Fatimah binti Za’idah bin Asham bin Amir bin Lu’ay. Kedua orang tua khadijah berasal dari keluarga terpandang di masyarakat Quraisy. Hakim bin Hizam (anak dari saudaranya) dan Waraqah bin Naufal (anak pamannya) adalah orang yang memiliki pengaruh dalam kehidupan Sayyidah Khadijah. Hakim adalah sosok yang diteladani Khadijah dalam berdagang sedangkan Waraqah sendiri adalah sosok yang memberikan pengaruh terhadap kehidupan spiritual Khadijah.  

Sayyidah Khadijah R.A. mendapatkan gelar pertama yakni Ath Thahirah  atau Wanita suci. Ia disifati seperti itu karena memang ia layak mendapatkannya. Ia pernah menikah dua kali sebelum akhirnya menikah dengan Rasulullah SAW. Kehidupan Khadijah bergelimang harta, ia menjadi pemuka kaum wanita dan konglomerat muda. Tak hanya itu, ia adalah wanita yang pandai berdagang. Khadijah R.A. juga tipe wanita yang pandai menjaga diri. Seperti yang diketahui, kehidupan malam di mekkah saat itu dipenuhi dengan foya-foya dan pesta setiap harinya. Namun, khadijah sama sekali tidak pernah turut serta dalam acara-acara tersebut. Ia juga mendapat gelar Ummul Mukminin, Sayyidatu nisa il alamin (pemuka wanita seluruh dunia). Gelar tersebut juga tidak didapatkan oleh sembarang wanita, baik istri-istri nabi kecuali Khadijah dan putri nabi;Fatimah. Tidak hanya itu, gelar tersebut juga didapatkan oleh hamba Allah terpilih yakni Maryam binti imran (ibunda isa) dan Asiyah binti Mazshim (istri fir’aun).

Khadijah ra sangat senang sekali mendengar bacaan Taurat dan Injil yang sering dilantunkan putra pamannya, Waraqah. Suatu ketika, Waraqah pernah bercerita kepada Khadijah bahwa akan ada Nabi yang diutus Allah SWT menjadi penutup para nabi untuk memberi petunjuk manusia, menyelamatkan mereka dari gelapnya kesesatan, dan memenuhi bumi dengan kelembutan dan kasih sayang. Mendengar cerita tersebut, Khadijah ingin sekali melihatnya, menjadi pengikutnya dan mempersembahkan apa yang dimilikinya untuk membantu jalannya demi menyelamatkan manusia dari gelapnya kesesatan. Hari berikutnya, sekembali Khadijah bersama budak-budak wanita dan sahabat wanitanya dari sa’i, ia beristirahat melelapkan dirinya sejenak. Kemudian, ia bermimpi melihat matahari turun dari langit mekah, hinggap di rumahnya dan memenuhi isi rumahnya dengan cahaya. Seketika ia bangun dari mimpinya dan segera menemui Waraqah. Putra pamannya tersebut menyampaikan bahwa jika Allah membenarkan mimpi Khadijah, berarti cahaya nubuwah tersebut akan memasuki rumahnya.

Pertemuan pertama Khadijah dan Muhammad ialah ketika Khadijah mengutus Muhammad untuk berdagang. Seperti yang diketahui bahwa pada saat itu, paman Muhammad, Abu Thalib meminta Muhammad menawarkan diri untuk turut serta berangkat berdagang bersama kafilah dagang Khadijah.  Kepiawaian Muhammad berdagang dilihat dari hasil yang didapatkannya setelah ia kembali dari berdagang.

Rasulullah SAW merupakan sosok lelaki yang rupawan, akhlaknya bagus, wajahnya berseri-seri, perutnya tidak besar, kepalanya tidak kecil, matanya elok, hitam dan lebar, dengan alis dan bulu mata lebat nan halus jenggotnya lebat. Ketika diam tampak wibawanya, kalau bicara tampak disegani, lembut, singkat, padat dan tentu tidak bertele-tele. Itulah sedikit penjelasan tentang sifat Rasulullah. Tentu, tidak heran banyak kaum wanita yang tersepona dengan sifat beliau, termasuk juga Sayyidah Khadijah R.A.

Salah satu bagian cerita yang menarik menurutku ialah ketika Sayyidah Khadijah lama kelamaan memiliki ‘hati’ kepada Rasulullah SAW. Bahkan, Halah, saudari perempuan Khadijah,  pun mengetahui bagaimana isi hati Khadijah kepada Muhammad. Halah berniat untuk menyampaikannya kepada Muhammad. Saat itu ia melihat Muhammad bersama Ammar sedang berjalan. Halah memanggil nama Muhammad, namun akhirnya ia menjadi gagap dan malah memanggil Ammar. Ia menceritakan kepada Ammar, dan meminta Ammar menyampaikan kepada Muhammad ‘apakah Muhammad ingin menikah dengan Khadijah?’. Kalian tahu apa yang dijawab oleh Rasulullah SAW? Beliau menjawab, “iya tentu”. Mendengar kabar bahagia tersebut, Halah memberitahukan kepada Khadijah. Namun, hari demi hari, Muhammad tak kunjung datang untuk memberi jawaban langsung kepada Khadijah. Kemudian, datanglah Nafisah, orang terdekat Khadijah. Nafisah bersedia menjadi perantara antara Muhammad dan Khadijah. Sampailah pada pertemuan Nafisah dan Muhammad. Nafisah cukup cerdik untuk menjadi seorang perantara. Ia tidak seperti Halah yang langsung mengajukan pertanyaan, ‘apakah Muhammad ingin menikah dengan Khadijah?’ Namun, Nafisah bertanya tentang alasan apa yang menghalangi Muhammad untuk menikah. Dijelaskan bahwa beliau tidak memiliki ‘apa-apa’ untuk menikah. Nafisah berkata tidaklah masalah, ia akan memperkenalkan wanita cantik, kaya, dan memiliki akhlak mulia, yakni Khadijah. Nafisah juga akan membantu mereka mengurusi pernikahan, yang penting Muhammad mau menikah dengan Khadijah.

Pada akhirnya, Khadijah mengutus budak untuk memanggil Muhammad ke rumahnya. Ia bertanya kepada Muhammad apakah ia ingin menikah dengan dirinya. Khadijah berkata, “Wahai anak pamanku, saya menyukaimu karena kekerabatanmu, kemulianmu di tengah kaummu, amanahmu, bagusnya akhlakmu dan kejujuran ucapanmu” tentu, secara tidak langsung, Sayyidah melamar Rasulullah kan? Luarrr biasa keberanian Sayyidah Khadijah :’’) Muhammad pun menerima tawaran tersebut dan pernikahan pun akan dilaksanakan besok harinya.  Rasulullah SAW memulai kehidupan baru pada usia yang baru menginjak dua puluh lima tahun. Adapun usia Khadijah menikah ada banyak versi pendapat. Ada yang mengatakan empat puluh tahun, tiga puluh tahun, tiga puluh lima tahun, dan ada juga berpendapat tiga puluh delapan tahun. Pendapat yang paling banyak ialah empat puluh tahun. Mengapa demikian? Hal ini dikarenakan Khadijah menikah saat mencapai puncak kedewasaan da n memiliki akal yang matang. Dan itu terjadi kepada mereka yang telah mencapai usia empat puluh tahun. Tetapi, dalam buku karangan Ibrahim Muhammad Hasan ini, dijelaskan beberapa analisis dari data yang ada terkait umur Sayyidah Khadijah saat menikah. Dari beberapa analisis yang tertulis di dalam buku ini, dapat dikatakan bahwa, “Sebagaiamana yang dikatakan sejarawan, usia hindun ketika ibunya menikah dengan Khadijah, di bawah sepuluh tahun. Hingga akhirnya, kami memiliki dua pilihan, mengakhirkan usia pernikahannya di atas dua puluh lima tahun atau jauh di bawah empat puluh tahun.” Jika dijelaskan di sini, akan sangat panjang heheh. Jadi, saya sarankan teman-teman untuk membaca bukunya dan memahami analisis terkait umur Khadijah saat menikah dari buku karangan Ibrahim Muhammad Hasan ini.

Buku ini sangat recommended untuk dibaca, selain akan menambah pengetahuan kita, tentu kita juga bisa mengambil kisah inspiratif di dalamnya. Tentu tidak mungkin saya akan menceritakan seluruh isi buku di blog ini. Saya sangat anjurkan teman-teman untuk membaca buku karangan Ibrahim Muhammad Hasan yang satu ini. Saya sangat bahagia bisa mereview buku sebagus ini. Alur cerita yang mudah diikuti, penjelasan yang terperinci, membuat saya jatuh cinta berulang-ulang kali dengan Buku “Khadijah” ini. Tetapi mungkin ada beberapa tulisan yang masih belum sesuai dengan kaidahnya (misalnya penulisan dimana, harusnya di mana), tapi ah itu tidak terlalu masalah untuk buku sehebat ini bukan?

Akhir kata, terimakasih telah mampir di blog saya. Nantikan review buku selanjutnya!

P.S Kalian bisa merequest mau review buku apa hehehe. Kalo aku sok sibuk, pasti aku sempetin terima request kalian eeeh hahahah. Apaan sih agustine.

Wassalamu’alaikum wr wb.

5 Agu 2017

Yogyakarta dalam Kacamata Agustine

1 komentar


Kalau mendengar kota Yogya, apa yang terlintas di benakmu? Bisa aku tebak, mungkin sebongkah kenangan dengan masa lalumu atau bisa jadi secercah harapan dengan masa depanmu? Tentu, hanya kamu yang mampu menjawabnya hahaha. 

Yuhuuuu. Uhuk Uhuk. Pertama, mau ngucapin syukur Alhamdulillah karena liburan kali ini diberikan kesempatan oleh Allah SWT untuk mampir ke kota pergerakan, Yogyakarta. Setidaknya, kota pergerakan adalah diksi yang tepat untuk menyebut kota Yogya setelah aku membaca buku Autobiografi ‘Anak-Anak Revolusi’ oleh Budiman Sudjatmiko, seorang aktivis politik yang dulu memperjuangkan adanya revolusi dan terang-terangan melawan orde baru. 

Perjalananku ke kota pergerakan dan pendidikan dimulai bersama salah seorang temanku, Nuzlah Ika Fatmi panggil saja Bunga, eh ike maksudnya. Hahahah. Liburan ke Yogya merupakan liburan yang tak kami rencanakan sebelumnya. Sebelum ujian akhir semester dilaksanakan, kami pernah menyeletuk untuk liburan ke daerah jawa, terserah ke mana pun itu. Tiba-tiba saja, kota Yogya yang pertama kali keluar dari mulut kami. Entahlah, racun apa yang diberikan kota Yogya sehingga membius kami untuk ke sana.  Awalnya sempat ragu sih liburan ke sana, karena akan mengingatkan ike pada kenangan bersama seseorang yang berharga baginya. Beruntungnya, aku tidak mempunyai kenangan apapun bersama seseorang yang (mungkin) berharga bagiku juga. Namun, pada akhirnya, dengan bekal niat dan tumpukkan harapan agar mendapatkan (setidaknya) kebahagiaan, kami pun melajuuu menuju Yogyakarta! 

Kami merasa sangat beruntung (lagi), sebab ada Hana, temannya ike, yang bersedia menampung kami di Pondoknya. Tidak hanya menghabiskan waktu untuk berlibur di Yogya, kami juga belajar agama di sana. Hahaha. Satu bulan tidak liqo karena dipotong waktu untuk UAS, menyebabkan kami merasa ‘hampa’. Ya, dengan menginap di pondok, selaiknya rohaniah kami tidak akan kosong melompong lagi. Wkwkw. 


Hari pertama di Yogya, aku dan ike menghabiskan waktu untuk berkeliling ke candi-candi. Aku sampai tak bisa berkata apa-apa ketika melihat candi di sana. Dulu, aku hanya bisa mendengar cerita-cerita sejarah tentang candi prambanan dan borobudur. Namun, kini aku telah menyaksikannya. Begitu megah memang, sebanding dengan HTMnya(?) entahlah hahah. Lanjut, perjalanan kami berikutnya ialah ke Taman Pintar. Wkwk. Wisata kami benar-benar edukasi bukan? Sebenernya, bukan ndak mau ke pantai atau gunung, tapi ada beberapa alasan yang menghalangi kami ke sana :””) Aku kira taman pintar sama seperti graha teknologi di Palembang, daan nyatanya benar apa adanya.... mirip. Wkwk. Tapi masih bagus dan lengkap di taman pintar sih. Setelah keluar dari taman pintar, kami langsung disajikan buku-buku yang berjejeran! Hahaha. Iya kayak lapak buku, ada banyak buku yang dijual di sana. Sumpah, mata ini jadi keliweran ga karuan kalo liat buku wkwk. Niat untuk membeli beberapa buku di sana terhalang karena keterbatasan uang yang dibawa. Sedih sekali nasib turis dalam negeri seperti kami. Kami pun berniat untuk ke sana lagi besoknya, [hanya untuk membeli buku]. setelah itu, kami pergi ke alun-alun kidul. Lagi-lagi kami dikecewakan. Kami sampai ke alun-alun kidul jam 17.00 wib, YA BELOM ADA APA-APA LAH. HAHAHA. Akhirnya, kami memutuskan untuk pulang ke pondok tanpa melihat alun-alun kidul di malam hari. Soalnya, di pondok ada acara kajian. Tentu, kami tidak mungkin meninggalkannya.


Hari Kedua di Yogya, wisata kami masih berbau edukasi. Wkwk. Kami berangkat menuju gembira loka zoo. Bagussss bangett, kalo menurutku. Soalnya di Palembang ga ada yang kek ginian hahah. Lebih bagus dari kebun binatang ragunan. YA IYALAH. Wkwk. Setelah gembira melihat binatang-binatang yang lucu dan menggemaskan, trip kami selanjutnya ialah museum De Arca dan De Mata. Sebenernya, museum De Arca ini tidak seperti museum fatahillah, SMB II dan sejenisnya. Museum ini berisi pameran 4D dan 3D yang ditujukan untuk ‘foto-foto’ saja >,< niat untuk membeli buku di taman pintar pun akhirnya kesampaian haha. 


Hari ketiga di Yogya berarti adalah hari terakhir kami berada di Yogya. Seperti turis-turis lainnya (halah), tujuan wisata terakhir kami ialah malioboro. Kalau kata orang sih, kalo belom ke malioboro belum ke Yogya namanya. Setelah kemarin kami merasakan patah hati (?), kami pun mengobatinya dengan belanja. Hahah. Tapi serius loh, ternyata pepatah tentang kalau perempuan sedanh merasa ‘ga enak’ baik itu karena patah hati, sedih karena sikap seseorang, dsb, salah satu obatnya ialah dengan belanja. kalo bagiku sih pepatahnya sangat benar. Aku merasakan sendiri ada kebahagiaan di balik belanja itu wkwk. Dasar wanitaaaa. 

Tentu hari terakhir juga ditutup dengan berkunjung ke taman sari dan mengelilingi UGM. Capek juga sih, apalagi kalo tidak ada motivasi, terutama untuk mengelilingi UGM, astagaaaaah.


Tiga hari di Yogya memberikan pelajaran yang sangat berharga bagiku. Aku di sini banyak belajar bagaimana harus bersabar, menahan rindu, berjuang untuk memahami satu sama lain, dan menjadi sosok wanita yang pantas untuk seseorang -yang aku juga belum tahu siapa itu. Setelah aku melihat dirinya, aku sedikit terpelatuq. Ia berusaha memantaskan di hadapan Allah SWT dan aku pun harus seperti itu juga. Di umurku yang nanti akan berkepala dua, aku harap bisa sedekat urat nadi dengan Allah SWT. Aku akan terus berdoa semoga Allah SWT memberkahi kita. Aku bukan aktivis sepertimu, namun aku akan senantiasa belajar, belajar dan belajar agar pantas menjadi ibu dari anak-anak kita kelak, untuk kamu, siapapun itu nanti.....


Duh. Yogya memberikan banyak cerita bukan ?

Akhirnya, aku bisa mengucapkan terimakasih banyak kepada Natali yang udah memesankan tiket untuk aku dan ike. Makasih juga kepada Hana dan tentu Pondok Asma Asmania yang sudah menampung kami, turis dalam negeri. Haha. Makasih juga buat deden (temen ike) dan seseorang sebut saja bibie yang telah menyempatkan diri untuk menjemput kami.

Bagaimana ceritamu di Yogya? Bolehkah aku mendengarkannya walau sejenak?


25 Mar 2017

//Review// Book of Origami Hati by Boy Chandra

0 komentar


"Karena mencintai tidak perlu meminta ia melupakan masa lalunya."


   Itulah sepenggal kutipan dari Novel Origami Hati karya seorang pemuda dari daerah Sumatera Barat, Boy Candra. Entah kenapa aku menyesal baru menjatuhkan hatiku membaca novel karangan uda -panggilan kakak dalam bahasa Padang-. Faktanya, novel ini pertama kali terbit pada tahun 2013 silam. Namun, uda memberikan sentuhan baru dan dengan karakter yang mendalam di novel ini. Jujur, aku belum membaca novel origami hati yang terbit pada tahun 2013 lalu. Maka dari itu, aku tak bisa membandingkan persis dengan origami hati (lama) dan yang (baru). Hanya saja, yang aku tahu, uda Candra menggunakan kemampuan tulisan yang khasnya untuk membuat ceritanya lebih hidup lagi... Aruna, dengan masa lalunya yang menyakitkan. Bagas, dengan kenangan mendalam bersama Anila. Dan Putri, perempuan yang memendam perasaannya sekian lama, hanya bisa menunggu, berharap takdir tuhan membawa 'mereka' bersama. 
   Sedikit pelik, memang. Namun, alur ceritanya menggiringku menikmati setiap seluk beluk masa lalunya, mengingatkanku bahwa setiap rindu pasti akan ada obatnya. Novel ini juga diselingi tentang kehidupan sosial di sana -Padang-. Pun tentang hangatnya kasih sayang keluarga hingga perihnya menahan rindu yang tak kunjung reda. Tak hanya itu, yang membuatku tertarik di novel ini ialah tentang Ganto, organisasi seperti pers mahasiswa.. tempat di mana mahasiswa menyuarakan pikirannya lewat tulisannya. Tergabung dalam satu organisasi yang sama, membuat Aruna dan Bagas semakin dekat.. dan pada akhirnya mereka sadar bahwa mereka memiliki perasaan yang sama satu sama lain. Meski kenangan dari masa lalu  tak pernah luput dari ingatan mereka, bukan berarti mereka ingin kembali memutar waktu. Hanya saja, terkadang, kenangan tersebut membawa rindu bagi mereka berdua. Pagi, senja, malam dan bintang-bintang adalah hal yang menjadi favorit mereka. Setiap saat mereka menghabiskan waktu menikmati hal yang menjadi kesamaan tersebut. Putri, sosok perempuan yang tahu akan kebahagiaan mereka, hanya tersenyum getir dan menahan sakit yang menjalar ke hulu hatinya. Ya, Putri mencintai bagas sekian lamanya dan tanpa kenal lelah menunggu Bagas melihat cintanya. Entah kenapa, aku suka sekali sama karakter Putri yang mampu terlihat tegar dari luar, mencintai dalam diam begitu lamanya, menahan diri tak menyatakan perasaan yang memang tak harusnya disalahkan. 

"Perempuan itu sebaiknya tidak menyatakan perasaannya duluan, meski itu kadang menyiksamu.  Karena Tuhan telah menetapkan siapa yang tepat untukmu, siapa yang benar-benar pantas menemani hari tuamu, siapa yang akan menemanimu saat melahirkan nanti, dan mengimami salatmu. Sebagai perempuan, kamu harus menahan hati. Tunggu ia tahu, atau yang lain datang, seseorang yang lebih peduli pada jatuh hatimu. jika dia untukmu, dia akan didatangkan dengan cara apapun." 
   Kutipan diatas ialah pesan yang selalu diingat oleh Putri dari ibunya. Cukup membuatku terpelatuk akan perasaan yang ku alami saat ini juga -halah wkwk-. Entah kenapa aku sangat menaruh perhatian pada Putri ketimbang Aruna, meski aku suka sama karakter Aruna di novel ini. Mungkin, karena Putri memiliki kesamaan sepertiku  
   Menurutku, novel karya Boy Candra cukup berhasil menguggah hatiku.. membawaku merasakan pemandangan indah yang dilihat oleh Bagas dan Aruna, membuatku ingin datang melihat senja bersama seseorang yang ku cinta. Namun sayangnya, entah kenapa, di pertengahan cerita, aku mulai merasa bosan. Mungkin karena jalan cerita yang bisa kutebak atau karena kemarin aku tak membacanya di saat yang tepat?Entahlah. Maafkan aku, uda. maafkan karena sudah seenaknya menebak setiap ceritanya sebelum aku menghabiskan bacaanya :"). Secara garis besar, aku menyukai Origami Hati ini.... Termasuk karakter Aruna yang menjadi ilustrasi di cover depan novelnya. Dari lubuk hatiku yang terdalam, aku lebih menyukai ilustrasi Aruna yang ada di (balik) cover depan novelnya... menurutku lebih mencerminkan karakter Aruna sepenuhnya. Bagi kalian yang belum membaca novelnya, segerakanlah! Karena lewat novel ini, kalian akan tahu betapa cinta itu sangat berharga, betapa kenangan itu tak mampu kita lupakan seenaknya, dan tentunya luka patah hati itu mampu disembuhkan meski cukup lama. Salam super! Oke oc ㇔

12 Mar 2017

#MariBelajar PPh Potput (2)

0 komentar
Hai! Comeback to me dalam #MariBelajar PPh Potput (2)

Warning! ini bukan tulisan untuk menggurui. hanya saja saling berbagi. Jika ada kesalahan mohon dikoreksi ya! Semua tulisan akan dicantumkan sumbernya.. 



Bagaimana ulasan materi PPh Potput (1) kemarin? begitu menggairahkan hingga kalian ingin mendapatkan tambahan pengetahuan lagi? Hahah. Lebay banget si. Okay. fokus kembali! Jadi pada part 2 kali ini, kita bakalan bahas hak dan kewajiban pemotong dan pemungut pajak, hak dan kewajiban wajib pajak, siapa yang menjadi pemotong dan pemungut pajak. Nah untuk materi Potput ini kita akan sering menggunakan PER Dirjen no 16 tahun 2016 sebagaimana telah diubah dari PER Dirjen no 32 tahun 2015. Perubahan yang signifikan dari PER tersebut ialah PTKP (Penghasilan Tidak Kena Pajak).

Dalam PER-2016-16, Pasal 1 angka 4 dijelaskan terkait siapa pemotong PPh pasal 21 dan atau 26. pemotong PPh pasal 21 dan atau PPh pasal 26 adalah wajib pajak orang pribadi atau badan, termasuk bentuk usaha tetap, yang mempunyai kewajiban untuk melakukan pemotongan pajak atas penghasilan sehubungan dengan pekerjaan, jasa dan kegiatan orang pribadi sebagaimana dimaksud dalam pasal 21 dan pasal 26 UU PPh. Pemotongan PPh pasal 21 dan pasal 26 dilakukan oleh pihak pemberi penghasilan kepada WP orang pribadi dalam negeri sehubungan dengan pekerjaan atau kegiatan yang dilakukan. Misalnya pembayaran gaji yang diterima oleh pegawai dipotong oleh perusahaan pemberi kerja. WP berbentuk badan ditunjuk oleh UU Perpajakan sebagai pemotong PPh Pasal 21 atas penghasilan yang dibayarkan kepada karyawannya maupun yang bukan karyawannya. WP orang pribadi dapat juga ditunjuk sebagai pemotong PPh Pasal 21 sepanjang ada penunjukannya dari KPP tempat WP orang pribadi terdaftar. Terkait siapa saja yang melakukan pemotongan PPh ialah :
      1. Pemberi kerja yang terdiri dari orang pribadi dan badan
      2. Bendahara atau pemegang kas pemerintah
      3. dana pensiun, badan penyelenggara Jaminan Sosial Tenaga Kerja dan badan-badan lain
      4. Orang pribadi yang melakukan kegiatan usaha atau pekerjaan bebas serta badan
      5. Penyelenggara kegiatan
Tidak Termasuk Pemberi Kerja Sebagai Pemotong PPh Pasal 21/26



      1. Kantor perwakilan negara asing
      2. Organisasi-organisasi internasional yang ditetapkan Menteri Keuangan (PMK-215/PMK.03/2008 jo PMK-166/PMK.11/2012)
      3. Pemberi kerja orang pribadi yang tidak melakukan kegiatan usaha atau pekerjaan bebas yang semata-mata memperkerjakan orang pribadi untuk melakukan pekerjaan rumah tangga atau pekerjaan bukan dalam rangka melakukan kegiatan usaha atau pekerjaan bebas


Hak dan Kewajiban Pemotong Pajak :
      1. Pemotong pajak wajib menghitung, memotong dan menyetorkan PPh 21 yang terutang setiap bulan takwim. .
      2. Pemotong pajak wajib mendaftarkan diri ke KPP setempat. 
      3. Pemotong pajak wajib melaporkan penyetoran tersebut sekalipun nihil menggunakan SPT Masa. 
      4.  Pemotong pajak wajib menyetor kekurangan PPh 21 yang terutang apabila jumlah PPh 21 yang terutang lebih besar dari yang disetor.
      5. Pemotong pajak wajib melampiri SPT tahunan PPh 21 dengan lampiran yang ditentukan dalam petunjuk pengisian SPT tahunan PPh 21
      6. Membuat bukti potong atas pajak yang ditelah dipotong
      7. Pemotong Pajak berhak untuk memperhitungkan kelebihan setoran pada SPT Tahunan dengan PPh 21 yang terutang untuk bulan pada waktu dilakukan perhitungan tahunan dan jika masih ada sisa kelebihan, maka diperhitungkan untuk bulan-bulan lainnya dalam tahun berikutnya.
      8. Pemotong pajak berhak membetulkan sendiri SPT atas kemauan sendiri dengan menyampaikan pernyataan tertulis dalam jangka waktu 2 tahun sesudah saat terutangnya pajak atau berakhirnya Masa Pajak atau Tahun Pajak, dengan syarat Direktur Jenderal Pajak belum melakukan tindakan pemeriksaan.
      9. Pemotong Pajak berhak untuk mengajukan surat keberatan kepada Direktur Jenderal Pajak atas suatu Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar, Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar Tambahan, Surat Ketetapan Pajak Lebih Bayar, Surat Ketetapan Pajak Nihil Kurang Bayar.

Tentunya hak dan kewajiban pemotong pajak ini tidak hanya yang tercantum pada poin di atas, dengan kata lain masih ada banyak poin mengenai hal tersebut. Temen-temen bisa membacanya lewat PER 16 tahun 2016. Namun garis besar hak dan kewajiban pemotong pajak tertera pada poin di atas. 


Wajib pajak dalam PPh pasal 21 atau 26 ialah orang pribadi yang menerima penghasilan dari pemberi penghasilan atau pemberi kerja. Dalam Pasal 1 angka 7 dan 8 disebutkan bahwa penerima penghasilan itu ada 2 jenis. Penerima penghasilan yang dipotong PPh pasal 21 dan yang dipotong Pasal 26. Perbedaannya ialah status subjek pajaknya saja. PPh pasal 21 dipotong atas subjek pajak dalam negeri. sedangkan PPh pasal 26 dipotong atas subjek pajak luar negeri. pada intinya penerima penghasilan adalah orang pribadi yang menerima penghasilan dengan nama dan dalam bentuk apapun sepanjang tidak dikecualikan dalam Peraturan Direktur Jenderal Pajak. Meskipun pemberi penghasilan menjadi pemotong dalam PPh dari wajib pajak, namun penerima penghasilan atau wajib pajak masih memiliki hak dan kewajiban dalam perpajakannya. 

Adapun Hak dan kewajiban penerima penghasilan sebagai wajib pajak ialah 
      1. Wajib mendaftarkan diri ke KPP dan memperoleh NPWP
      2. Wajib melaporkan SPTnya disertai bukti potong
      3. Memiliki hak untuk meminta bukti potong kepada pemotong pajak
      4. Memiliki hak untuk dihitung pajak yang terutang
      5. Pegawai, penerima pensiun berkala, serta Bukan Pegawai sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 ayat (1) huruf a angka 4 wajib membuat surat pernyataan yang berisi jumlah tanggungan keluarga pada awal tahun kalender atau pada saat mulai menjadi Subjek Pajak dalam negeri sebagai dasar penentuan PTKP dan wajib menyerahkannya kepada pemotong PPh Pasal 21 dan/atau PPh Pasal 26 pada saat mulai bekerja atau mulai pensiun.


Nah mungkin sebatas ini saja gengs pembahasan kita dalam #MariBelajar PPh Potput (2). Sebenernya pembelajaran PPh Potput ini susah susah gampang. Apalagi jika kita membahas perhitungannya... rumit rumit gampang. Rumitnya dua kali besar daripada gampangnya wkwk. Dalam PPh potput ini, bukan hanya tarif saja yang harus kita hapal, namun a juga harus mengetahui penghasilan mana si yang harus dihitung disetahunkan, tidak disetahunkan, kemudian bagaimana perlakuan rapel, bonus, dan penghasilan tidak teratur lainnya. Sangat rumit sekali. Apalagi berkaitan dengan perhitungan pegawai tidak tetap atau pun bukan pegawai. Dalam #MariBelajar PPh Potput ini, mungkin aku tidakakan membahas seluruhnya hingga ke detailnya, sebab itu tadi, lumayan sulit membahas seluruh materinya. Jadinya yang dibahas hanya terkait PPh Potput secara garis besarnya saja. Mohon maaf apabila ada salah dalam konsepsi dasarnya. Temen2 bisa langsung mengoreksinya saja! :D

Source: PER No 16 tahun 2016, Ortax, WibowoPajak, Pembelajaran di kelas.

8 Mar 2017

#MariBelajar PPh Pot-Put (1)

0 komentar


                Hola! Sebentar lagi 31 Maret 2017 nih, temen-temen yang sudah memenuhi syarat subjektif dan objektif untuk membayar pajak sudah melakukan kewajibannya belom? Hayo, pada tahu ga siii kewajiban wajib pajak itu apa?  Emang apa si kak? Beneran ga tau ni? Hehehe. Ya yang jelas mah bayar pajak dan tentunya lapor SPTnya dong!  Oh gitu ya kak?  Ya Ampun kamu kemana aja si deeeek. Wah kalo gitu, aku pengen minta ajarin ngisi SPT dong kak. Wait! Sebelum kita belajar SPT, aku pengen sharing-sharing tentang PPh potput dulu ni dek. Udah tau belom PPh potput itu apa? Laaah. Itu apa lagi si kak? Kok njelimet banget singkatan-singkatan gitu. Kamu belom tau juga? Jadi gini dekkkk.....

PPh Potput merupakan kependekan dari Pajak Penghasilan Pemotongan dan Pemungutan. Dalam mekanisme pembayaran PPh saat ini, dikenal dua sistem yakni self assesment system dan withholding system (PPh potput). Jadi, pada pembahasan kali ini, aku akan berbagi sedikit tentang Sistem pembayaran pajak dengan withholding system atau biasa dikenal PPh potput. Withholding system adalah mekanisme pembayaran pajak yang dilakukan oleh pihak ketiga, dimana pihak ketiga tsb wajib memotong, menyetor dan melaporkan pajak yang terutang dari wajib pajak. Salah satu poin penting dari PPh potput sendiri ialah adanya pihak ketiga atau pihak lain yang ditunjuk sebagai pemotong dan atau pemungut pajak.  Pemotongan dan pemungutan memiliki arti yang berbeda. Pada pemotongan, pemotong pajak tidak hanya memotong, menyetor dan melaporkan pajak yang terutang dari wajib pajak namun juga membayarkan penghasilan kepada wajib pajak. Beda halnya dengan pemungutan. Dalam pemungutan, pemungut pajak tidak harus melakukan pembayaran penghasilan, melainkah hanya sekadar memiliki hubungan dengan wajib pajak dalam melakukan kegiatan usaha dari wajib pajak.
PPh potput ini merupakan salah satu kebijakan yang didasari oleh kondisi perekonomian Indonesia. Seperti yang kita tahu, penerimaan terbesar negara bersumber dari pajak, dan salah satunya ialah Pajak atas penghasilan orang pribadi dan badan. Sejatinya, pembayaran, penyetoran, dan pelaporan pajak atas penghasilan tsb dilakukan pada setiap akhir tahun pajak. Namun jika kita benar-benar menerapkan hal tersebut, maka yang akan sengsara adalah Indonesia. Sebab, penerimaan negara baru akan terkumpul pada akhir tahun sedangkan pemerintah membutuhkan uang dari penerimaan pajak sepanjang tahun untuk membiayai pengeluaran pemerintah dalam rangka pembangunan infrastruktur bagi masyarakat. Maka dari itu, lahirlah konsep PPh potput guna mengatasi kondisi tersebut. Pemotong dan pemungut pajak akan memotong dan memungut pajak yang terutang dari Wajib pajak serta menyetor dan melaporkannya setiap akhir masa pajak (ada ketentuan yang berlaku terkait kapan penyetoran dan pelaporan pajak sesuai kondisi tertentu). Adanya PPh potput ini menciptakan kesederhanaan bagi wajib pajak karena wajib pajak tidak perlu melakukan perhitungan, penyetoran namun tetap melaporkannya di SPT masa dan SPT Tahunannya dengan melampirkan bukti potong. Pemotong dan pemungut pajak akan menyerahkan bukti potong atau bukti pungut kepada WP sebagai bukti bahwa si wajib pajak telah melakukan kewajibannya yakni membayar pajak. Selanjutnya, bukti potong dan pungut tersebut akan dilampirkan di SPT masa dan tahunan dari wajib pajak. Pajak yang telah dipotong dan dipungut oleh pihak ketiga tersebut dapat menjadi kredit pajak bagi wajib pajak di akhir tahun pajak. 
Pay as you earn menjadi konsep saat terutang pajak atas penghasilan. Pay as you earn bermakna bahwa saat wajib pajak menerima penghasilan, maka saat itulah yang tepat untuk memungut pajaknya. Pada prinsipnya, pemungutan pajak memiliki asas convenience yakni kenyamanan bagi wajib pajak sehingga pemungutannya pun harus sesuai dengan kondisi wajib pajak. Tempat terutang dari pemungutan pajak ialah tempat diberlangsungkannya kegiatan. Misal Ali pegawai PT C diminta menjadi moderator seminar xxx di acara kantor PT B. Atas penghasilan yang diterima Ali sebagai moderator tsb, maka penyelenggara kegiatan tsb sebagai pemotong pajak wajib memotong pajaknya, saat terutang Ali membayarkan pajak ialah saat diterimanya penghasilan (Saat itu juga), tempat terutangnya ialah tempat di mana kegiatan tsb berlangsung (Kantor PT B).


      Oh gitu toh ya kak. Aku baru tahu loh. Hehe. Iya, jadi sebelum ngisi SPT kamu harus paham dulu sama konsep perpajakan yang ada, salah satunya tentang PPh potput. Meski kamu bukan anak pajak, ya minimal pengetahuanmu tentang perpajakan bertambah gitu loh. Terus kapan lagi ni kak kita belajar Potputnya? Masih ada kelanjutannya kan? Masih ga ya? Hehehe. Masih dong! Tunggu aja ya kelanjutan “Mari Belajar PPh potput part (2).” Makanya jangan sampe kelupaan mantengi blognya ya. Di “Mari Belajar PPh potput (2)” kita akan kupas tentang kewajiban pemotong dan pemungut pajak, kewajiban wajib pajak, siapa yang menjadi pemotong dan pemungut pajak, dan masih banyak lainnya. Penasaran kan? Jangan sampe kelewatan ya. See you next time! 

Source : Wahyu Santosa, Ak., M.Si. dan Sadimin, S.S.T. serta pembelajaran di kelas