11 Mar 2020

//Review// Catatan Juang by Fiersa Bersari

0 komentar
"Seseorang yang akan menemani setiap langkahmu dengan satu kebaikan kecil setiap harinya.
tertanda, juang"

Hola! Akhirnya, aku kembali untuk mereview buku yang menurutku bagus dan layak untuk kalian baca. Judulnya adalah Catatan Juang yang ditulis oleh Fiersa Bersari. Buku ini ku dapat sebagai hadiah ulang tahunku dari seorang sahabat pada bulan Agustus 2019 lalu. Bukunya pun sudah hatam kubaca dalam kurun waktu satu minggu karena aku suka banget sama buku ini. Namun, aku baru bisa mereviewnya saat ini. heheh.

Anak muda mudi mana sih yang tidak kenal sama Fiersa Bersari? Hampir tidak mungkin tidak ada yang kenal ya? Hahah tapi bisa jadi juga ada yang tidak tahu. Fiersa Bersari yang kerap disebut "Bung", mengawali kariernya sebagai musisi sebelum akhirnya ia terjun ke dunia tulis-menulis. Sudah pernah membaca bukunya yang berjudul Garis Waktu? Buku itu adalah hasil debut pertamanya di dunia tulis menulis dan katanya, banyak orang mulai menyukai tulisannya sejak saat itu. Jujur, aku pribadi belum pernah membaca bukunya yang satu itu sih.  Akan tetapi, akhirnya aku dipertemukan dengan tulisan Bung Fiersa lewat hadiah Buku Catatan Juang yang aku terima. Aku begitu penasaran bagaimana bisa tulisan Fiersa Bersari dapat menghipnotis anak muda-mudi di luar sana. dan ternyata Aku juga jatuh cinta dengan tulisannya. Aku suka bagaimana dia menceritakan persoalan kehidupan yang tidak hanya relate dengan hidup Suar tetapi kita pun juga. Dan Catatan Juang berhasil menamparku berkali-kali.

Catatan Juang menceritakan bagaimana Suar sebagai tokoh utama dalam cerita dapat menemukan kembali semangat, cita-cita dan cintanya berkat sebuah buku berjudul catatan juang yang ditemukannya tergeletak di bawah Angkotan Umum. Suar, yang selama ini muak dengan kehidupannya apalagi dengan pekerjaan yang sama sekali bukan menjadi impiannya, akhirnya berani untuk mengejar mimpinya lagi karena bujukan rayu Catatan Juang itu.

Bung Fiersa menjelma menjadi Juang lewat Novelnya yang satu ini. Catatan lusuh bersampul merah tersebut menjadi obat kuat Suar dalam menjalani hidupnya. Semua kata-kata yang tertuang dalam buku itu menghipnotis pembaca, seakan apa yang disampaikan Bung Fiersa melalui sosok Juang sangat benar apa adanya.

Aku sangat senang membaca tulisan Bung Fiersa yang diwakilkan oleh Juang ini. Berikut beberapa kutipan tulisan Juang dalam Buku Catatan Juang.

1. Cukup

Bagaimana rasanya dikecewakan oleh orang yang kita sayang karena kembali dengan mantan kekasihnya? Perasaan sakit mendalam itulah yang dialami Suar ketika Ricky, kekasih Suar, kembali bersama dengan Bella. Ricky menganggap Suar kolot karena enggan untuk diajak 'melakukan hal aneh-aneh sebelum menikah'. Tapi Suar menganggapnya itu prinsip. Setelah diketahui ternyata Bella kembali menggoda Ricky, tak butuh waktu lama bagi mereka berdua untuk kembali menjadi sepasang kekasih. Dunia Suar seakan hancur hingga membuat kinerjanya menurun. Bagaimana tidak, Ricky, Suar dan Bella ada di kantor yang sama. Melihat Ricky, seseorang yang pernah ia sayang, bemesraan dengan wanita lain sepanjang hari membuat hati Suar sakit. 

"...Dulu, aku merasa bahwa pasanganku haruslah melengkapiku. Ternyata, aku keliru, Berkomitmen berarti saling memantaskan, bukan saling melengkapi, itulah yang aku pelajari seiring waktu. Aku tidak boleh bergantung pada pasanganku, sebagaimana pasanganku tidak boleh bergantung padaku.

... Komitmen berarti komunikasi. Komitmen berarti mementingkan satu sama lain di atas ego kita sendiri. Komitmen berarti mengikat dua orang yang memiliki masa lalu berbeda untuk visi dan misi yang sama."

2. Lupa untuk Melupa

Sering kali kita lupa mengingat 'hakikat' hidup yang kita jalani. Sama halnya dengan Suar, ia begitu terobsesi untuk sukses di bidang sinematografi. Dulu, sukses menurut Suar mungkin hanya seputar mendapatkan uang dan terkenal. Namun, Suar sadar bahwa sukses tak melulu tentang kekayaan dan ketenaran.

"... Aku tidak bermaksud mengatakan bahwa mengikuti pola hidup konvensional itu salah, itu hakmu sebagai individu. Maksudku adalah, apa pun yang kau lakukan, jangan lupa terhadap alasan pertama mengapa kau melakukan hal-hal itu.

.... Semoga kita tidak lagi lupa, bahwasanya yang terpenting bukan seberapa banyak kebaikan yang bisa dimiliki, melainkan seberapa banyak kebaikan yang bisa dibagikan. Jadilah generasi yang lupa untuk melupa, generasi yang mengingat sebaik-baiknya masa lalu demi membetulkan hari ini, bukan meratapi kemudian melupakan masa lalu demi bersedih-sedih hari ini."





3.  Tumbuh Bersama Waktu

Kita mungkin pernah ingin memutar waktu, kembali ke masa kecil kita dahulu dan kembali ke momen di mana kita masih polos dan tak tahu tentang kehiruk pikukan dunia. Kalian pasti pernah ingin kembali menjadi anak kecil berumur lima tahun-an, membawa balon atau permen di kedua tangannya. Tapi, itu hanyalah sebuah keinginan. Tak ada yang benar-benar kembali ke masa lalu. Kita akan terus tumbuh bersama waktu. Mau tak mau, kita harus berjalan melewati fase kehidupan. Ada momen di buku ini di mana Bapak Suar yang sedang sakit, terbangun dari tidurnya dan melihat Suar memegang buku bersampul lusuh dan merah. Beliau penasaran dengan buku tersebut, diambilnya buku itu dan dibacanya. Sampailah ia pada bacaan 'tumbuh bersama waktu'. Bapak Suar berharap waktu yang dihabiskannya bersama keluarga ini bukanlah waktu yang terbuang percuma.
"...Kita tidak bisa menghindari perubahan. Semua akan berubah, entah itu ke arah yang lebih baik, atau lebih buruk. Yang perlu kita lakukan adalah beradaptasi. Dunia takkan selalu mengikuti apa mau kita, tapi kita selalu bisa menyesuaikan kemauan kita dengan apa yang dunia sediakan."

4. Badai Terhebat Pun Akan Reda

Pernahkah kalian merasa cobaan yang sedang kalian hadapi sangatlah berat? Atau bahkan kalian pernah ingin menyerah saja terhadap segala masalah yang menimpa diri ? Aku yakin jawabannya pasti pernah. Tapi, hidup itu seperti hujan, selebat apapun hujan itu, tentu akan reda dan bahkan ada pelangi setelahnya. Namun, tentu kita harus berusaha untuk menerimanya, berjuang untuk tidak meratapi luka, melupakan hal yang mungkin pernah menggores hati. Kalo kata juang sih kira-kira gini.. 
"...Biarlah yang terluka menikmati waktunya. Biarlah yang bahagia lupa bahwa kelak mereka akan kembali terluka. Dan di sela-sela itu semua, bersyukurlah. Hati kita buatan Tuhan, bukan buatan Taiwan. Bisa rusak berulang kali dan bisa betul berulang kali tanpa perlu dibawa ke bengkel. Jangan khawatir, bahkan badai terhebat pun pasti akan reda." 

5. Biarlah Semua Orang Jadi Penulis

Aku yakin semua orang itu adalah penulis. Entah medianya apa, yang jelas kita adalah penulis. Hanya saja kita tidak menganggap menulis adalah terapi. Kita bahkan jauh dari poin bahwa menulis itu untuk mengeluarkan ide-ide di pikiran. Padahal menulis itu ibarat membahasakan pikiran yang tak mampu diucapkan. Juang pernah bilang bahwa. .. . 
"...Dan untukmu yang baru saja akan menulis, selalu ingat ini: menulis adalah terapi. Dan kita tidak perlu melakukannya agar terlihat keren di hadapan orang lain, atau berekspektasi punya buku yang diterbitkan penerbit besar. Menulis adalah sebuah kebutuhan agar otak kita tidak dipenuhi oleh feses pemikiran. Maka, menulislah."
Catatan Juang ini juga memberikanku semangat untuk terus menulis dan menginspirasi banyak orang. Terkadang, kita tidak tahu seberapa besar pengaruh tulisan kita bagi orang lain. Dan Juang membuktikan bahwa dengan menulis, kita tidak hanya mengeluarkan feses di pikiran kita tapi juga dapat membawa perubahan bagi orang yang membacanya.

Secara keseluruhan, buku ini sangat bagus dan menginspirasi. Lewat tulisan ini, kita bisa belajar dari seorang Juang yang mampu menebarkan kebaikan di sekelilingnya. Tak hanya itu, tulisan ini bukan sekadar tentang cita-cita dan cinta, buku ini juga sarat akan makna hidup; humanis dan nasionalis. Bagi kalian yang punya waktu senggang, sempatkanlah untuk membaca buku ini. Barangkali bisa jadi pengingat kalian sewaktu-waktu. Selamat membaca!

5 Mar 2020

Destinasi Wisata Bandung 2D1N - 2

0 komentar
Di postingan sebelumnya, aku sudah jelasin tentang paket tour travel yang aku pilih ketika liburan di Bandung. Aku juga sharing mengenai kenapa akhirnya aku memutuskan menggunakan tour travel sebagai liburan perdanaku ini. Selanjutnya, di postingan kali ini, aku mau cerita sedikit tentang destinasi wisata yang telah kami kunjungi.

Hari Pertama - Lembang

Bilangnya liburan ke Bandung, tapi mengunjungi Lembang dan Ciwidey. Apakah masih pantas disebut liburan ke Bandung sih ges? wkwkkw. Oke, jadi dari awal sih aku udah setting liburan dua hari ini akan dipakai untuk mengunjungi Lembang dan Ciwidey. Hari pertama so pasti langsung ke Lembang karena ga mungkin baru sampe langsung ke Ciwidey cui. Tepar banget kan. Tiket kereta  kami dipesan pukul 05.00 wib. Pagi banget sih emang but i have no idea lagi sih soalnya. Untungnya ortuku dan temanku ga masalah heheh (gatau aslinya gimana tapi). Perjalanan ke Bandung via Kereta menempuh waktu 2-3 jam-an. Kami sampai di Bandung sekitar pukul 08.00 WIB dan langsung dijemput oleh Tim Arozaq Tour. Selama di perjalanan, kami berdiskusi untuk memfixkan tempat yang akan kami kunjungi. Setelah diskusi, ada beberapa wisata tambahan dan ada juga yang diubah. lets check it out!

Farm House
Kayaknya tempat ini menjadi destinasi yang harus kalian kunjungi kalo ke Lembang hehehe. Ohiya, tiket masuk farm house, kawah putih, dan floating market sudah masuk dalam paket tour ya. Aku lupa bayarnya berapa, pokoknya setiap satu tiket itu bisa kita gunakan untuk ditukar dengan susu di booth farm house yang sudah disediakan. Lumayan banget kan, kita ga akan merasa haus selama mengelilingi farm house karena sudah diberi susu hasil dari farm-nya sendiri. wow. Farm House itu isinya apa aja sih? Banyak banget! tentunya banyak juga tempat-tempat yang instagrammable lah. Ada juga hewan2 lucu kayak domba, kelinci. Kalo kalian mau coba maen sama ular, burung2an juga ada sih, cukup bayar 10.000 kalian udah bisa megang ular, burung dkk, murah kaaannn? Terus, kalo kalian mau nyewa baju-baju ala korea juga ada kok tapi tentu ini ga masuk ke dalam paket tour yah!


The Greatest Asia Africa

Nah diseberang Farm House, ada tempat wisata yang baru aja dibuka yaituuu The Greatest Asia Africa. Kalo di The Greatest Asia Africa itu ada apa sih? Di sana ada replika bangunan setiap negara di Asia Afrika. Thats why called The Greatest Asia Africa. Tempatnya luas banget dan gedeeee puol. Tiket Masuk 50.000 dan gratis makanan/minuman (pilih salah satu ga boleh mendua hiyaa). Wisata ini menurutku cocok untuk yg muda mudi sih, kalo buat orang tua capek banget karena jalannya jauh gitu deh. Jadi, replika negaranya itu ada di bawah banget ges, makanya kita perlu jalan atau seenganya naik lift sederhana yang disediakan. Buat kalian yang memutuskan untuk menggunakan lift yang kayak gondola ini, kalian dikenakan biaya 10.000/orangnya. Pokoknya apa-apa ada biaya deh wkwkwk. Nah kalo kalian kuat dan ga capek bisa tuh lewat jalanan, tapi bentuknya kek jembatan gitu dan kalian juga bisa berhenti sejenak buat foto-foto dulu dengan background yang kece badaiii. Buat kalian yang mau sewa baju lucu2 ala2 Asia Afrika kayak baju hanbook Korea, baju sari India, dll, kalian bisa sewa disini dan berfoto dengan background ala-ala negara asia afrika guys. Kece parah emang. Ya kalo menurutku sih ini bagus banget buat kalian foto-foto tapi cuman satu, capek banget gais jalannya apalagi bagi orang tua kan.

Tangkuban Perahu

Tangkuban Perahu sebenarnya tidak ada dalam list paket 2D1N Arozaq. Namun, karena kami request untuk kesana, akhirnya Tim Arozaq mewujudkannya juga eheheh. Terimakasih Arozaq! Sebelum berangkat ke Bandung, papaku emang sudah ngomong ke aku kalo beliau mau pergi ke Tangkuban Perahu. Ya istilahnya udah booking lah mau ke sana. Untungnya bisa terwujudkan deh BM-nya Papa wkwk. Sebenernya, ada beberapa hal yang disampaikan oleh Tim Arozaq ketika kami hendak melancong ke Tangkuban Perahu. Karena banyak kejadian-kejadian yang cukup merugikan di sana, makanya tim Arozaq sudah mewanti-wanti kami. Setibanya di Tangkuban Perahu, aku langsung merasa kedinginan banget tapi pemandangannya bagussss meskipun bau belerangnya semerbak sih ya! Di sana lebih banyak orang jualan daripada orang yang berkunjung hahaha. Setiap kami jalan buat lihat-lihat dan foto-foto, selalu aja diikuti penjual. Risih ga sih kalian kalo niatnya mau liburan etapi diikutin terus oleh orang yang jualan? aku sih ngerasa ga nyaman banget. Makanya kalo mau ke sini jangan rame-rame dan keliatan mencolok deh biar ga diikutin para penjualan huhu :( by the way, Tiket masuknya 150.000 untuk satu mobil dan exclude dari tour travelnya.

Floating Market

Setelah halan-halan saatnya kulineran!! Jadi, floating market itu adalah pasar mengapung dengan sistem transaksinya menggunakan koin yang berlaku di sana. Aku lupa tiket masuknya berapa yang jelas sama kayak dua wisata sebelumnya, bahwa setiap tiket berhak untuk mendapatkan minuman secara gratissss. Nah sebelum kalian kulineran, kalian harus menukarkan uang rupiah yang dimiliki dengan koin yang sudah disediakan pihak floating market. Ada banyak jenis makanan yang wajib kalian cicipi dan tentunya makanan plus harganya itu sesuai banget dengan kantong dan dijamin enaaak. Ga cuma itu, kalian akan dihadapkan dengan pemandangan yang adeem dan menyejukkan banget.
 
Hari Kedua

Perjalanan di hari kedua  lebih berat dari sebelumnya, cielah. Di hari kedua ini, kami menempuh perjalanan ke Ciwidey dan itu lama banget ges. Kayaknya waktu kami habis di perjalanan deh. Kami jalan pukul 08.00 sampe di sana sekitar jam 11-an. 

Kawah Putih

Wisata ini pun wajib kalian kunjungi kalo kalian mampir ke Ciwidey. Tiket masuk 75.000. Tempatnya bagus banget dan ini adalah destinasi yang ingin ike kunjungi. Akhirnya kesampaian ya, Ke. So sebenernya kami di Kawah Putih ga menghabiskan waktu yang banyak paling sekitar 30 menit; jepret-jepret, teriak wow karena kagum, bikin igstory, ngobrol-ngobrol. udah gitu aja. TAPI yang bikin lama adalah perjalanan masuk ke Kawah Putihnya. Jadi kan kalo kita mau ke Kawah Putih-nya kita harus menggunakan semacam angkotan umum gitulah yang bisa mengangkut 10 orang. DAN itu baru bisa jalan kalo angkotnya udah full. Bayangkan betapa lamanya menunggu angkot itu full :(( Padahal menikmati pemandangan Kawah Putihnya bentar banget tapi perjalanannya yang lama hue sedih tapi harus tetap bahagia dong ya! ohya karena Kawah Putih ini mirip kek Tangkuban Perahu yakni sama-sama bau belerang, kalian harus hati-hati ya. Kalo merasa sesak napas, langsung coba menjauh dan pakai masker yang sudah diberikan! :)
Glamping Lake Side
Glamping Lake Side punya nama kecil yaitu Danau Situ Patenggang. Namanya diubah menjadi Glamping Lake Side karena saat ini banyak peminat yang ingin berkemah di pinggir danau tapi ala-ala puncak gitu deh. Oleh karena itu, dibentuklah perkemahan tapi desainnya kayak villa di puncak. Di dekat danau tersebut, terletak restoran yang digemari para turis domestik maupun manca negara, Pinishi Resto namanya. Kalian bisa makan dengan sensasi di atas kapal -ya walaupun kapalnya ga bergerak dong ya wkwkwk. Tapi kalian akan mendapatkan pemandangan yang bagus. Lebih bagus lagi kalo kalian dateng agak sorean. Kalo kalian datang ke sana siang hari, cuaca sedang panas banget dan malah jadi ga enak buat foto-foto karena kepanasan dan cahaya fotonya jadi kurang bagus. 

Kartika Sari
Perjalanan ke Ciwidey memang membutuhkan waktu yang lama sehingga kami cuman bisa mendatangi dua wisata saja. Cukup bikin hati sedih sih Hahah. Untungnya, kesedihan hati terobati dengan belanja oleh-oleh di Kartika Sari. Kalo kalian liburan di Bandung dan ingin beli oleh-oleh, Kartika Sari adalah jawabannya. Segala jenis makanan khas Bandung lengkap banget dijual di sana dan harganya pun oke punya!

Nah, jadi itulah destinasi wisata kami di Bandung selama 2D1N. Mungkin, bagi teman-teman yang berminat untuk berlibur di Bandung, silahkan siapkan itenarynya dengan baik ya! Happy Vacation, dear!!!!

Itinerary Bandung 2D1N - 1

0 komentar
Haloooo! Assalamu'alaikum wr wb. Apa kabarnya semuaaa?

Di postingan kali ini, aku mau sharing sama kalian tentang itinerary ke Bandung selama dua hari satu malam. Aku liburan itu di bulan Januari dan sekarang sudah bulan Maret 2020, artinya jarak antara tulisan ini dengan liburanku kemarin cukup jauh hehe. Tapi gapapa sih, yang penting aku bisa sharing ke kalian siapa tau bermanfaat yekaaan.
.
So...
Ini kali pertamanya, aku menggunakan hak cuti tahunanku untuk 'acara keluarga' sekaligus liburan ke Bandung. Kemarin sih, aku mikir sayang banget gunain cuti tahunan untuk acara keluarga aja, kenapa engga sekalian dimanfaatkan buat liburan kan? hehe. FYI, Aku ke Bandung bersama orang tuaku, dan dua orang wanita yang sudah cukup dewasa buat diajak touring bareng (wkwkwk). Total ada lima orang yang join liburan ke Bandung. Awalnya bingung mau ke mana. Soalnya, orang tua udah pernah ke Bandung juga, tapi ya emang ga semua wisata sudah dikunjungi mereka sih. Kalo ke daerah lain seperti Jogja, Malang, dkk butuh waktu yang lama sedangkan cutiku terbatas. Alhasil, aku memutuskan untuk pergi ke Bandung deh, tapi dengan wisata yang belum pernah dikunjungi orang tuaku. Kira-kira satu atau dua bulan sebelum keberangkatan, aku sudah sibuk cari tour travel yang oke menurutku untuk menemani perjalanan kami.

Nah, buat kalian yang mau liburan entah kemana pun itu apalagi kalian pertama kali berkunjung ke destinasi tujuan dan terutama mengikutsertakan orang tua juga, aku sarankan untuk menggunakan Tour Travel. Alasannya apa? nanti aku jelasin deh ya keuntungan menggunakan tour travel itu apa. heheh. Nah kalo aku kemarin sih menggunakan jasa tour dari Arozaq Tour Travel dengan mengambil paket 2D1N. Temen2 bisa langsung cusss ke website resminya : http://www.arozaqtour.com/


Karena kami ambil paket 2D1N dan untuk 5 orang dengan hotel Amaris, maka per orangnya kena biaya 750.000/orang. Sangat disayangkan, saat ke Bandung, Kami tidak mencari waktu yang pas sehingga tidak mendapatkan promo tiket pesawat ataupun kereta. Aku sama orang tua ada 'acara keluarga' di Jakarta makanya Aku stay beberapa hari di sana. Oleh karena itu, perjalanan ke Bandung kami tempuh menggunakan Kereta Api. Demi kenyamanan orang tua, kami memesan Kereta Eksekutif Agro Wilis. wkwkwk. Kalo kayak kite-kite mah naek kereta ekonomi juga ga apa-apa lah ya tapi ini kan sama orang tua tercinta heee. Sebenernya ga ada perbedaan yang signifikan sih antara kereta eksekutif dan ekonomi, mungkin yang mencolok itu kursinya yang sedikit lebar dan cuman dua set per baris berasa ekslusif aja sih.

Nah, jadi biaya transportasi perjalanan ke Bandung kurang lebih seperti ini gess (not included extra time di hotel ya, makanan, gocar dll pokoknya yg exclude tour travel!)dan ini per orang yaa, aku ngitungnya based on me yg berangkat dari Palembang, bukan temenkuuu yang berangkat dari lombok heheh)
Tiket PP PLG-CGK : 1.500.000 (citilink)
Tiket PP BDG - JKT : 400.000
(belum termasuk gocar dari hotel ke stasiun atau sebaliknya ya gengss)

Sebenernya, dari Arozaq Tour sendiri sudah menyediakan destinasi yang dituju sesuai paket yang dipilih. Tapi, kalo kalian mau menambah destinasi lain, pihak arozaq memang tidak keberatan. Namun, akan ada biaya tambahan lagi. Destinasi wisata kami kemarin sedikit ada modifikasi. heheh. Sebenernya, ada banyak modifikasi tapi waktunya yang ga pas dan budgetnya juga kurang wkwkwk makanya destinasinya dimodif sedikit aja ga banyak-banyak biar ga boros!!! ><

Hari Pertama :
1. Farm House
2. The Greatest Asia Africa
3. Tangkuban Perahu
4. Floating Market

Hari Kedua:
1. Kawah Putih
2. Glamping Lake Side
3. Kartika Sari

Sebelum masuk ke tulisan tentang wisata yang dikunjungi, aku mau kasih tau keuntungan pake tour travel itu apa......
1. Bagi kalian yang pertama kali dateng ke destinasi wisata tujuan dan terutama bawa orang tua, sebaiknya kalian pake tour travel. ya karena kan kalian belum tahu situasi dan kondisi wisata tujuan kalian kan. Jadi bakal lebih gampang dan aman kalo pake tour travel. gampangnya itu karena kalian ga perlu pusyiang mencari kendaraan buat ke sana ke mari pergi ke wisata tujuan. kalian bakal di antar ke mana saja asal kalian ngomong dulu dong ke pihak tournya wkwkwk.

2. Melanjutkan poin pertama, aman. Kenapa bisa dijamin aman? jadi, waktu kami ke Tangkuban Perahu, kami sudah diwanti-wanti gitulah sama pihak Tournya buat hati-hati kalo misal ada 'yang aneh-aneh'.  Karena si akangnya tahu wilayah di sana 'agak gitu' (ga boleh dikasi tau secara publik ya, dm aja kalo kepo wkwkwk), jadinya kami bisa lebih berhati-hati dalam bersikap dan bertindak sehingga kami pun jadi lebih aman. eakkk.

kayaknya dua kata, yakni gampang dan aman sudah mewakili kenapa harus pake tour travel jika ingin liburan. Lebih enak lagi kalo ngambil paket full kali ya, makan pagi, siang dan malam sudah include sama biaya tournya. Jadi, kalian tinggal bawa badan aja sama duit gitu. Ga perlu pusing-pusing mikirin makan di mana, pergi ke mana, dll.

Sebenernya mau solo travel pun ga jadi masalah sih. Kalo pertimbangan aku kemarin karena bawa orang tua. Jadi, biar mereka ga capek, nyaman, dan aman, aku pun akhirnya memutuskan pake tour travel. Aku pun sebenernya pengen nyoba solo travelling. Maybe, liburan selanjutnya aku bakal solo travelling tapi ya ga solo2 amat sih wkwkw dengan sahabat misalnya atau dengan sang suami di masa yang akan datang >< cie cieee. colek ga nih? apa yang dicolek woi wkwkw.

Oke mungkin sekian dulu penjelasan awal tentang gimana itenary liburan ke Bandung. Tunggu saya di pos selanjutnya, karena di postingan nanti, aku bakal bahas tempat wisata yang kami kunjungi. See youuu. 👋

10 Feb 2020

Memaknai Hidup Selama 10 Hari Tanpa Komunikasi

0 komentar
Tulisan pertama di tahun 2020 ini didedikasikan untuk diriku yang mampu berjuang melewati kerasnya kehidupan terutama selama 10 hari kemarin di Buperta Cibubur.

Di zaman serba online seperti saat ini, kita pasti punya kecemasan tersendiri apabila tidak mampu berkomunikasi dengan dunia luar lewat gadget yang kita punya. Dulu sih, gadget bukan barang pokok dan tentunya bisa ditinggal kapan saja. Sekarang, coba deh renungkan. tanpa adanya gadget, kayaknya kita merasa ada yang kurang yah? Apalagi untuk kita yang anak rantauan, rasanya gadget itu udah mendarah daging. Komunikasi jarak jauh butuh adanya media berupa gadget itu.Tapi, apakah betul kita tak bisa hidup tanpa adanya gadget?

Aku ga tahu sejak kapan gadget menjadi barang pokok yang wajib ada saat kemana saja. Bahkan gadget alias smartphone menjadi barang yang pertama kali kita cari saat bangun tidur, whaat?? betul apa betul? kali ini, aku mau bahas tentang diklat sepuluh hariku dan gimana aku survive tanpa adanya alat komunikasi. lebay banget ga sih bahasanya? wkwkw

jadi, awal januari sebelum aku cuti untuk pertama kalinya, aku mendapatkan panggilan diklat teknis orientasi untuk pegawai pajak. Dan diklatnya tepat 5 hari setelah aku cuti tahunan. Haduh, ketika menerima panggilan diklat itu, perasaanku ga karuan. Antara cemas dan seneng!! cemas karena fisik dan batinku belum benar-benar siap dan seneng karena perjalanan untuk melepas jabatan dari CPNS ke PNS sebentar lagi akan tuntas hahaha.


Selama diklat, para peserta tidak diperkenankan memegang alat komunikasi sama sekali. Dengan kata lain, selama sepuluh hari kami tidak bisa berkomunikasi dengan dunia luar. Engga bisa update di instagram story, ga bisa video call dengan keponakan, ga bisa chat2-an sama temen, dan tentunya ga bisa ngobrol haha hihi sama doi! Selama sepuluh hari juga, kami akan bercanda ria, bersenda gurau dengan para pelatih yang terpercaya dari kopassus. hmm sangat menyenangkan, bukan? :')

Kata katingku, tiga hari pertama diklat adalah hari-hari yang menyeramkan dan menegangkan. Tapi, kalo bagiku tiada hari tanpa menegangkan. Baik menegangkan otot maupun menegangkan batin :'' Tiga hari itu....guling-guling, merayap, push up, jalan jongkok seakan menjadi cemilan wajib yang harus kami cicipi. Ga cuma itu, masuk ke gorong-gorong yang berisikan lumpur cokelat menjadi selingan haha hihi di kegiatan diklat tersebut. Beruntungnya, saat malam hari tiba, kami tidur di hotel berbintang-bintang alias di tengah lapangan berlumpur beratapkan langit yang dihiasi bintang dan bulan. Dan menariknya lagi, sebelum tidur, kami harus long march mengelilingi buperta yang bentukannya udah kayak hutan belantara kalo malam hari. Untung saja kami melakukannya itu bersama-sama. Jadi, suka duka seakan ditanggung bersama, haseeek. Jangan. jangan nanya apakah bisa mandi atau engga. Kalian sudah pasti tahu jawabannya apa :( aku tidak tega mengatakannya hahaha.

Hari berikutnya, tak ada yang berbeda. Hanya saja, kami sudah tidur di dalam tenda. Kegiatan pun tidak lepas dari ceramah umum, makan, makan, dan makan. wkwkwk. Musuh terberat selama diklat adalah makan. Kalo ngeliat mobil snack buperta yang berjalan ke arah pendopo, rasanya ingin membuat bannya kempes atau melakukan hal gila lainnya agar mobil tersebut berhenti mengangkut makanan yang terus menerus dikirimkan padahal kondisi kami masih sangat amat kenyank:) Tapi, lagi-lagi kami dibuat bersyukur dan berusaha untuk tidak mengeluhkan hal tersebut.

Kalo ditanya hal apa yang paling diingat ketika PTO, jawabannya adalah belajar karate dalam waktu 3 hari, yomhobop!!! dan tentu yg paling diingat juga adalah pelatih terbaik, pelatih amin wkwkwk dan pelatih akhlish. Pelatih amin disebut terbaik karena kharismanya yang mampu membuat siwi terenyuhh huhuh. Pelatih akhlish dikatakan terbaik karena humornya yang berisi banget dan selalu membuat tertawa tanpa henti walau sudah digulung-gulung berpuluh puluh kali.

Ah, buperta memang menyimpan banyak cerita. cerita tentang bagaimana harus bertahan hidup dalam kondisi terbatas. Tempat mandi yang terbatas, air terbatas, tempat tidur yang (tak) terlalu nyaman, lingkungan yang terbuka dan masih banyak lainnya. yang tak terbatas hanyalah makanan saja :''')

Selama di Buperta, katanya jiwa korsa akan terbentuk karena semuanya menanggung beban yang sama, menanggung suka duka yang setara. Tapi, aku pribadi beranggapan bahwa jiwa korsa yang berusaha dibentuk selama diklat tersebut masih belum sempurna, atau dengan kata lain prematur. masih banyak siwa dan siwi yang peduli dengan diri mereka sendiri. tak membantu temannya ketika sedang butuh. entahlah, rasa-rasanya aku masih bisa merasakan jiwa korsa ketika latsar di Jogja kemarin sih ya ehehehe.

Meskipun begitu, hidup sepuluh hari di Buperta cukup memberikan makna yang mendalam. Dan, Aku masih hidup bahkan tetap sehat kok tanpa adanya smartphone. Setidaknya, aku memberikan ruang untuk diriku sendiri menikmati dunia nyata tanpa adanya distraksi oleh notifikasi shopee di smartphone atau balasan cerita dari instagram story(?) wkwk. Aku bisa memberikan waktu untuk seseorang agar bisa merindu. Ya, semoga dengan jarak yang terbentuk itu akan membuat seseorang tersebut lebih menghargai waktu bersamaku.

Hidup itu ga indah kalo cuman kita sendirian. Hidup juga ga akan berjalan dengan baik kalo hanya kamu yang mengusahakannya seorang diri. itulah kenapa manusia disebut makhluk sosial. Seberapa mandiri dan tangguhnya dirimu, kamu perlu orang lain untuk menikmati hidup. Setelah terasingkan dari dunia luar, aku menyadari banyak hal yang patut aku syukuri. Lucunya, aku sempat menangis karena kondisiku itu bahkan sempat berpikiran 'susah banget yah jadi PNS harus gini amat'.  kalimat tersebut pernah terlontar ketika diklat berlangsung. Untungnya, aku langsung istighfar. Banyak loh orang-orang ngantre buat jadi PNS, kok aku malah ngeluh dengan cobaan yang kayak gini aja.

Terakhir, aku berterima kasih amat banyak kepada penyelenggara diklat, para pelatih, teman-teman seangkatan. Terimakasih, selama sepuluh hari kemarin aku menyimpan kenangan yang indah untuk dikenang saja tidak untuk diulang hihih. Hidup memang sebercanda itu. Kamu harus merasakan susah dahulu agar bisa memaknai hidup yang sudah kamu miliki saat ini.

foto-foto selama PTO :))







31 Des 2019

Throw Back

2 komentar

It’d been a long time aku ga bertengger di blogku ini. Keasikan bikin podcast dan juga dengan dunia kerja membuatku melupakan sesuatu yang berharga dan telah ku bangun cukup lama di sini. Jadi, kamu apa kabar?

Ada beberapa hal yang ingin ku bagikan dan ingin ku ingat bersamamu. Kala itu, awal tahun 2019 menjadi bulan di mana diriku tidak produktif samsek. Yakin tidak produktif sama sekali? kayaknya tidak juga ya, karena selagi menunggu pengumuman penempatan, aku menghabiskan waktu denganmu di sini, benar tidak? Ada banyak memori yang ku tuangkan dalam bentuk tulisan di laman ini. Tapi tetap saja, aku masih ada hutang pada seseorang untuk menuliskan tentang perjalanan ke Ancol. Haha kalo diingat-ingat, rasanya waktu cepat berlalu dan cepat juga mengubah seseorang ya. Hari-hari ku biasa saja sampai akhirnya pengumuman ojt beredar. Aku bertemu dengan adik-adik yang sangat manis dan penuh semangat untuk belajar. Ada ainun, fahmi, Renzo, thea, melly, nadya, vira, anggi, ayin dan terakhir ida. Tunggu, ida bukan adik, dia seumuranku atau bahkan kayaknya lebih tua dari ku hahah. Awalnya, aku sangat bahagia dan sudah membayangkan kami akan bersama setidaknya sebelum ada yang tugas belajar. Tapi ternyata perpisahan lebih cepat dari itu, hanya satu bulan aku dan mereka dapat bersama. Selebihnya aku dimutasi, ya walaupun hanya berbeda lantai, tetap saja rasanya sudah berbeda. Apalagi kami sudah dibebani tanggung jawab soal tusi masing-masing. Jelas akan susah mencari waktu untuk becengkrama.

Penempatan pertama langsung di eselon 2, hmm agak sedikit kaget tapi lama kelamaan aku mulai menikmati di sini. Ya walaupun banyak pegawai yang sudah nikah, tetap saja aku tak begitu merasa terasingkan. Toh mereka juga ramah-ramah dan memiliki selera humor yang sangat baik.
Ingat ga, aku pernah cerita juga kalo aku kemarin pergi ke Yogya,loh. Tentu bukan untuk liburan seperti tahun 2017 kemarin. Aku ke sana untuk ikut latsar cpns. Hahaha. Beruntung skali rasanya diklat di sana, tidak banyak tindakan atau hukuman yang kami terima, para pelatih dan penyelenggaranya pun baik-baik. Aku juga bertemu dengan teman-teman dari berbagai instansi. Ya, semenyenangkan itu memang. Nanti, aku coba perlihatkan kepadamu foto-fotonya yah, barangkali ada yang kamu taksir sama temeen-temenku itu haha. Tapi, hati-hati sudah banyak warna merah loh alias sudah ada yang punya >< yah, tapi sebelum janur kuning melengkung, kamu bisa menikung hahaha.

Eh iya, aku kayaknya lupa cerita soal ulang tahun ku ya? Agustus kemarin ada seseorang yang menemuiku di Palembang. Ah kayaknya kamu udah tau dong siapa dia, kan aku pernah cerita ke kamu tentang dia. Entah kenapa, senyum dan tawaku lepas sekali saat itu, seakan tidak ada beban. Tapi, rasanya waktu sangat singkat. Entah karena memang kami banyak melakukan hal produktif atau memang sepertinya weekend itu selalu terasa singkat ya? Hahaha. Dan yang penting, aku berterima kasih kepada seseorang itu telah mengukir senyuman di saat ulang  tahunku.

Ah, kamu tau kan kalo aku udah bikin podcast? Bincang sabtu, namanya. Nanti, kalo gabut, kamu bisa dengerin ocehanku itu. Ya, beberapa bulan terakhir aku menemukan wadah yang tepat untuk menuangkan segala apa yang aku pikirkan. Tapi, sepertinya, aku mulai kepedean bahwa banyak yang suka sama podcastku itu. Padahal, pendengarnya bisa dihitung jari atau bahkan bisa ku tebak siapa saja. Aku sempat hopeless sama project ku itu, ya temanku memberiku dukungan memang. Tapi ya mau gimana kalo belum bisa banyak didengar orang, belum bermanfaat bagi orang atau belum menyentuh hati orang? Awalnya aku berpikir, tak mengapa tak ada feedback dalam menulis atau membuat podcast, tapi rasanya lama kelamaan ada hal yang mengganjal di hatiku. Bukankah aku membuat ini agar bisa menjadi manfaat bagi orang lain juga? Bagaimana aku tahu kalo sudah ada manfaatnya? Ya dengan adanya feedback tersebut. Tapi, yasudahlah mungkin akan ku pikirkan lagi tentang kelanjutan podcastku itu

Ada banyak hal yang sudah ku lewati. Mungkin tak terhitung lagi ada berapa banyak keringat dan air mata yang diam-diam aku sembunyikan lewat malam yang hening dan bantal yang menutupi wajahku. “Tidak apa-apa” seprtinya menjadi kalimat andalanku padahal sebenarnya kalimat itu adalah sebuah kebohongan. Aku berpikir, dengan mengucap kalimat itu, semua orang di dekatku tidak akan merasa sakit. Ya ternyata malah jadi boomerang, ya?

Terimakasih ya, 2019. Walau aku tidak membuat resolusi yang ciamik saat itu, tapi kamu sangat berkesan dan mengajarkan aku dari sisi emosional.

Semoga, aku bisa melanjutkan hal-hal yang bahagia dan menakjubkan nantinya. Saatnya, aku menutup  jurnal tahun ini.

Salam hangat, Agustine.

22 Okt 2019

Semua orang adalah penulis

1 komentar


Aku tak ingat persis kapan aku mulai menulis. Mungkin sekitar enam atau tujuh  tahun yang lalu. Aku hanya ingat saat itu aku sedang menyukai boyband korea, salah satunya Super Junior. Dan karena mereka lah aku mulai menulis cerita-cerita fiksi yang dipublish di laman fanbase Super Junior Indonesia. Aku mulai tertarik menulis fanfiction sejak saat itu. Dan kemudian berkembang menyukai tulisan-tulisan ilmiah hingga tulisan random semacam ini. Bagiku, menulis adalah jejak langkah perjalanan hidupku. Aku sempat punya buku diary, tapi tak bertahan sampai saat ini. Haha. Aku lebih suka menulis random dan mempublishnya di sosial media. Bukan karena aku ingin diapresiasi, tapi karena aku ingin memperlihatkan bahwa betapa aku suka menulis. Mungkin, aku belum berada di tahap mencintai. Tapi, aku akan berusaha keras untuk sampai ke tahap itu. Beberapa waktu terakhir, blogku sedikit berdebu karena aku mangkir dahulu bersama hobi baruku, bikin podcast. Hahah. Namun, tetap saja, buat podcast pun harus ada seni menulisnya. Beberapa hal yang aku utarakan tak lepas dari coret-coretan kalimat yang aku buat. 

Temanku, ike, pun sedang kecanduan menulis di blog. Sebenarnya dia sangat suka menulis di buku hariannya. Dari dulu aku sudah menyuruhnya untuk membuat blog dan mempulish tulisannya di sana. Namun, hatinya baru tergerak di awal bulan september ini. Aku senang setidaknya beberapa orang terdekatku sudah mulai mengabadikan moment hidupnya lewat tulisan yang dibuat. 

Ah, tapi, menulis itu tak hanya sebatas itu saja. Kalian bikin tweet pun adalah tulisan. Semua kata dan kalimat yang kalian ketik di laman mana saja adalah tulisan. Jadi, sudah dipastikan, kita adalah penulis....dengan cara kita masing-masing. Aku dengan blogku. Kamu dengan podcastmu, misalnya. Dia dengan instagramnya. Dsb....

Terlepas dari jejak langkah hidupku, menulis adalah bentuk terapi bagi diriku sendiri. Kadang, banyak hal yang aku pikirkan dan tak mampu ku ucapkan. Akhirnya, aku pun menulis sebagai bentuk healing dari segala masalah yang aku hadapi. Kalian tak perlu menulis jika hanya untuk terlihat keren di depan orang lain. Menulislah, tanpa meminta apresiasi dari orang lain. Menulislah tanpa takut dihina orang lain. menulislah di mana saja tanpa peduli medianya apa. .. Agar suatu saat nanti, setelah kau tiada, tulisanmu akan menjadi bukti bahwa kau pernah ada dan memiliki peranan dalam dunia.  

31 Agu 2019

Dua Puluh Dua

0 komentar



Siapa sangka gadis asal Palembang yang satu ini bisa ulang tahun juga? Hahahah. Aku sangat bersyukur masih diberi nikmat kesehatan oleh Allah SWT sehingga masih bisa menuliskan perjalananku di blog ini. Ada banyak hal yang bisa ku syukuri selama 22 tahun aku mendiami bumi ini. Dimulai dari lahirnya aku dari Rahim seorang ibu yang luar biasa dan tak terkalahkan sampai aku memulai perjalanan sebagai seorang calon pegawai negeri sipil. Asam, manis, pahit kehidupan mungkin belum sepenuhnya aku cicipi. (Masih 22 tahun) pengalamannya pun masih sedikit, tak bisa dibandingkan dengan kakakku atau bahkan orang tuaku, iya kan? Tapi, aku punya kok pengalaman jatuh-bangun ketika hendak masuk ke perguruan tinggi. Aku juga pernah sedih karena patah hati. Aku punya pengalaman mengordinir orang, menjadi anggota organisasi, bertemu orang berprestasi, punya teman yang sangat baik hati sampai dengan bertemu orang yang bisa membuat jatuh hati. Hadeuh, udah gede banget ya bahasanya. Semakin bertambahnya umur, semakin bertambah pula level ujian hidup. Waktu masih sekolah, ujian kita hanya sebatas soal yang diberikan pihak sekolah dan dijawab dengan teori-teori yang sudah kita hapalkan. Tetapi, semakin kita beranjak dewasa, ujian tak sesempit itu. Bahkan kita pun kadang tak menemukan jawaban pasti dari ujian hidup itu. Semakin kita bertambah umur, semakin banyak permasalahan yang akan kita hadapi. Hubungan dengan manusian lain. Pekerjaan. Keuangan. Jodoh. Pernikahan. Keluarga. Anak. Dan lain-lain. Menjadi dewasa itu bukanlah pilihan tapi keharusan. Kita tak bisa terjebak dalam cangkang buatan orang tua kita. Kita harus tumbuh dan mengepakkan sayap sendiri. Menjadi dewasa bukan berarti memutuskan pilihan sendiri tanpa ikut melibatkan pihak-pihak yang kita sayangi. Justru, karena ada pihak tersebut, kita akan semakin diarahkan untuk membuat pilihan yang tepat. Semoga, tahun depan, aku masih diberikan nikmat kesehatan lagi agar tulisanku akan tetap berlanjut. Barangkali tahun depan akan ada cerita baru yang mampu mempengaruhi perjalanan hidupku. Untuk orang-orang yang telah mengasihiku selama ini, aku berterima kasih dengan sungguh. Tanpa adanya kalian, mungkin aku tak akan merasakan bagaimana rasanya dikasihi dengan amat dalam. Selama 22 tahun ini aku bersyukur telah dikelilingi orang-orang baik dan dipenuhi pengalaman yang berarti.  

“Selamat tanggal dua-dua buat kamu yang sudah berumur dua-dua”
tertanda, Agustine.